Dapatkan Segera Aku dan Duniaku

Dapatkan Segera Aku dan Duniaku

Ayo segera dapatkan buku Aku dan Duniaku, buku Smart Parenting dari Rumah Pensil. Kini anda bisa memesannya secara online. More »

Dapatkan Segera Buku Asmaul Husna

Dapatkan Segera Buku Asmaul Husna

Ayo segera dapatkan buku Asmaul Husna, buku yang sarat pendidikan islam dini dari Rumah Pensil. Buku ini diperuntukan untuk buah hati anda, dengan cerita, games dan gambar yang menarik proses pembelajaran akan menjadi menyenangkan. More »

Dapatkan Segera Buku Kisah Para Sahabat Nabi

Dapatkan Segera Buku Kisah Para Sahabat Nabi

Ayo segera dapatkan buku Kisah Para Sahabat Nabi, buku yang mengisahkan riwayat para Sahabat Nabi. Dengan bahasa, dan gambar yang menarik, buah hati anda akan senang membaca buku ini. More »

Dapatkan Segera Trilogi Komik Palestina

Dapatkan Segera Trilogi Komik Palestina

Ayo segera dapatkan satu set buku Trilogi Komik Palestina dari Rumah Pensil. Ajak buah hati anda untuk berempati dan bersimpati dengan saudara muslim kita di Palestina. More »

Dapatkan Segera Buku Parenting in Stories & Nabi Muhammad Pun Bercerita

Dapatkan Segera Buku Parenting in Stories & Nabi Muhammad Pun Bercerita

Ayo segera dapatkanBuku Parenting in Stories & Nabi Muhammad Pun Bercerita dari Rumah Pensil. Buku buku yang bisa dijadikan sebagai media parenting untuk buah hati anda. More »

 

SLOW DOWN …

Slow down, Ayah dan Bunda. Mungkin kita terlalu dalam menekan gas sehingga rumah tangga kita berjalan terlalu kencang. Mungkin kita terlalu ingin cepat sampai pada tujuan padahal para penumpang kita sudah merasa tidak nyaman dan ingin beristirahat. Mungkin masih banyak target materi yang ingin kita punya sementara waktu mengalir secepat motornya Valentino Rossi. Mungkin kita terlalu bernafsu melihat anak-anak kita bisa ini dan itu sementara kita lupa bahwa pohon hanya bisa berbuah bila melewati prosesnya dengan benar. Mungkin… mungkin… mungkin… apapun itu, Ayah dan Bunda, perlahanlah sejenak. Slow down…

Ketika kecepatan berkurang, ke tepilah dan istirahat. Inilah saatnya menatap wajah pasangan dan anak-anak kita sambil tersenyum dan bilang, “Bagaimana perjalanan kita? Seru kan?”

Ayah dan Bunda, bagaimana pun harus selalu ada waktu untuk orang-orang yang kita cintai. Di saat bersama itu kita bisa berharap Allah akan mengembalikan kekuatan kita dan merefresh visi hidup kita. Ingat saja apa yang Mitch Albom bilang, “Satu hari yang kau habiskan bersama orang yang kau cintai bisa saja mengubah segalanya.”

Mungkin kita bisa merenungi beberapa bagian dari puisinya William Henry Davies:

Apalah artinya hidup, yang katanya penuh dengan kasih sayang,

Bila kita tidak punya waktu untuk berdiri dan memperhatikan?

Kita tak punya lagi waktu sekadar berdiri di tepi pagar

Dan menikmati padang rumput seperti yang dilakukan domba dan sapi-sapi.

Kita tak punya lagi waktu memperhatikan pepohonan yang kita lewati setiap hari,

Tempat dimana para tupai menyembunyikan persediaan kacang.

Kita tak punya lagi waktu memperhatikan betapa luasnya langit siang,

Atau betapa penuhnya bintang di langit malam.

Tak punya lagi waktu menoleh ke anak-anak kita,

Dan mengamati bagaimana kaki mereka sudah bisa menari.

Tidak punya lagi waktu untuk menunggu

Bagaimana senyum dan mata ketawa anak-anak mulai terbentuk di wajah mereka.

Betapa malangnya hidup ini, yang katanya penuh dengan kasih sayang,

Bila kita tidak punya waktu untuk berdiri dan memperhatikan.


Ayah dan Bunda, hari-hari bersama anak-anak dan keluarga adalah hari-hari terindah kita. Maka buat rutinitas kita slow down, lalu habiskan waktu bersama mereka. Simak saja syair lagu anak-anak berjudul “A Beautiful Day” ini…

Lihat matahari bersinar di jendela, inilah waktu untuk memulai hari yang baru…

Tidakkah kamu dengar burung bernyanyi, aku pun akan ikut bernyanyi sekerasnya dan bilang:

“Inilah hari yang indah, tempat kita berlari di bawah sinar matahari.

Hari yang indah ini baru saja dimulai.

Hari indah untuk melakukan sesuatu yang ingin kulakukan… Ahahaa…

Hari yang indah, bahkan untuk sekadar hidup.

Hari yang indah yang benar-benar membuatku bahagia.

Dan izinkan aku membaginya bersamamu…”

                Selamat menikmati hari indah bersama anak-anak dan keluarga, Ayah dan Bunda….

FAMILY FUN ACTIVITY

Assalamu’alaikum Ayah Bunda
Kali ini Rumah Pensil mempersembahkan acara keluarga yang menarik untuk mengisi weekend akhir bulan ini lhoo !

Family Fun Activity
Disini Ayah Bunda bisa menambah ilmu dengan mengikuti Seminar Parenting bersama Bunda Kiki Barkiah bertemakan “Ayah Bunda, Jika Benar-Benar Cinta …”

juga, Adik-adik akan mendapatkan pengalaman seru dengan mengikuti Workshop Komik bersama Kak Fia ..
Daaan masih banyak bonus buku-buku karya Kak Eka Wardhana dan Kak Fia untuk Ayah Bunda dan Adik-adik semua

Ikutan yuk Ayah Bunda, jangan lupa ajak Adik-adik juga

family fun activity mar 16

SANLAT KREATIF, RAMADHAN KU SERUU

Assalamu’alaikum Ayah Bunda ..
Semangat Pagii

Marhaban Ya Ramadhan
Dalam menyambut bulan penuh berkah, Kursus Kreatif Rumah Pensil punya acara menarik niii.. Ngabuburit sambil berkarya bersama Tim Kreatif Rumah Pensil di ‘Sanlat Kreatif, Ramadhan Ku Seru’.

SANLAT KREATIF, RAMADHAN KU SERU

Yuk buat ngabuburit kamu jadi terasa asik !!
Salam Kreatifitas grin emotikon

Contact Person :
Dipta 0857-2221-6516
Irfan 0856-2445-8373

ORANG TUA YANG MANAKAH KITA?

Ayah dan Bunda, berikut saya sertakan sebuah tulisan yang menginspirasi. Sayang, nama pengarangnya tidak diketahui…

Ada 2 buah rumah bersebelahan. Masing-masing dihuni oleh sepasang orangtua dan anak tunggal mereka. Alkisah, kedua rumah dan penghuninya pernah mengalami hal-hal yang persis sama, namun efeknya jauh berbeda. Bagaimana bisa begitu? Inilah kisahnya…

Di Rumah Pertama, Sang Anak pulang sekolah dan berseru, “Bunda! Ayah! Aku dapat nilai 100 untuk 2 mata pelajaran di sekolah!”

Tanpa ekspresi, Sang Ayah menjawab, “Hanya 2 mata pelajaran? Kenapa bukannya 3 mata pelajaran atau lebih?”

Di Rumah Kedua, Sang Anak pulang sekolah dan berseru, “Bunda! Ayah! Aku dapat nilai 100 untuk 2 mata pelajaran di sekolah!”

Dengan sangat bahagia, Sang Ayah menjawab, “Alhamdulillah! Kamu benar-benar membuat Ayah bangga! Ayah benar-benar bahagia memiliki kamu!”

Di hari berikutnya, dari dapur Rumah Pertama, Sang Anak berseru, “Bunda, aku telah mencuci semua piring kotor bekas makan malam!”

Dengan datar dan tenang, Sang Ibu menanggapi, “Kamu sudah mengepel lantai belum?”

Sementara di Rumah Kedua terjadi hal yang sama ketika Sang Anak berseru, “Bunda, aku telah mencuci semua piring kotor bekas makan malam!”

Sang Ibu tersenyum dan berkata lembut, “Tahu tidak, semakin hari Bunda tambah sayaaang padamu….”

Esok harinya, dari halaman belakang Rumah Pertama, Sang Anak berseru, “Ayah, aku telah memotong rumput. Lalu semua sisa rumputnya telah aku bersihkan!”

Dengan wajah agak masam karena kurang puas, Ayahnya menanggapi, “Terus, kamu tidak membersihkan tanah liatnya sekalian?”

Pada saat yang sama, di Rumah Kedua Sang Anak berseru, “Ayah, aku telah memotong rumput. Lalu semua sisa rumputnya telah aku bersihkan!”

Dengan ceria Ayahnya berseru, “Nak, hari ini kamu telah membuat hati Ayah benar-benar bahagia!”

Dari tiga hari kejadian berturut-turut itu tampak jelas bahwa anak yang hidup di Rumah Kedua lebih bahagia dan percaya diri. Bagaimana bila kejadian seperti itu terjadi terus-menerus setiap hari sampai tahu-tahu para orangtua baru sadar kalau anak mereka telah menjelang dewasa? Tentu perbedaan rasa bahagia dan kepercayaan diri kedua anak di rumah yang berbeda itu semakin besar, layaknya terpisah samudera luas.

Wahai Ayah dan Bunda, setiap anak layak dihargai atas setiap tugas yang mereka kerjakan. Inilah awal mengarahkan mereka pada kehidupan yang lebih bahagia.

Masa depan anak-anak kita, Ayah dan Bunda, begitu banyak tergantung pada cara kita menghargai mereka. Orangtua yang manakah kita ini?

JIKA

Ayah dan Bunda, akhir-akhir ini mencuat kasus kekerasan seksual yang dilakukan remaja laki-laki pada kaum perempuan. Mengapa mereka melakukan hal sehina itu? Sebab dari kecil mereka memang tidak pernah dididik menjadi laki-laki sejati.

Mengapa banyak lelaki melakukan korupsi? Jawabannya sama dengan sebelumnya. Mengapa para lelaki banyak yang menjadi malas dan tidak bisa mewujudkan potensinya? Jawabannya juga sama.

Nah, Ayah dan Bunda, bila Anda dikaruniai anak laki-laki, ajarkan agar menjadi laki-laki sejati. Bagaimana gambaran seorang laki-laki sejati? Saya menemukannya dalam sajak berjudul “Jika” yang ditulis oleh Rudyard Kipling, sang penulis The Jungle Book. Sajak ini dituturkan dalam bentuk nasihat monolog dari orangtua buat anak laki-lakinya. Silakan menyimak, semoga berguna…

JIKA

Oleh Rudyard Kipling

Jika kamu dapat tetap menegakkan kepala sementara semua orang di sekelilingmu

tidak mampu melakukannya dan malah menyalahkan kamu,

jika kamu dapat tetap percaya pada dirimu sementara semua orang meragukanmu,

tetapi kamu tak mempermasalahkan keraguan mereka itu,

jika kamu dapat menunggu tanpa merasa lelah,

atau sanggup berbaring tanpa bermaksud bermalas-malas,

atau sanggup dibenci tanpa balas membenci,

dan tidak berlagak menjadi orang yang terlalu baik atau terlalu bijaksana,

jika kamu dapat bermimpi tanpa menjadikan mimpi itu tuanmu,

jika kamu dapat berpikir tanpa menjadikan pemikiranmu itu sebagai satu-satunya tujuan,

jika kamu dapat menghadapi kejayaan dan bencana
dan memperlakukan dua hal semu itu dengan perlakuan setara,

jika kamu dapat bertahan ketika mendengar hal-hal yang kau yakini

diputarbalikkan sekadar menjadi permainan,

atau ketika melihat hal-hal yang amat berarti dalam hidupmu hancur,

kamu tetap bertahan dan malah membangunnya lagi dengan segala yang kau punya,

jika suatu saat kamu mengumpulkan segala hal berharga yang kau miliki

serta mempertaruhkannya dalam sebuah kesempatan beresiko,

dan akhirnya kalah, namun kamu sanggup memulai lagi segalanya dari awal,

tanpa pernah mengeluh tentang kekalahan dan kehilanganmu itu,

jika kamu dapat memaksa hati, meski diliputi cemas dan khawatir,

untuk tetap bertahan bersamamu meski kamu telah kehilangan segalanya,

dan kamu sanggup terus bertahan ketika kamu tak punya apa-apa lagi

kecuali kemauan untuk terus berkata pada hatimu itu: ‘Bertahanlah!’

Jika kamu bisa berbicara dengan rakyat biasa tanpa kehilangan pandangan idealismu,

Atau berjalan bersama para raja tanpa kehilangan sentuhan merakyatmu,

Jika tak ada satu orang pun, baik lawan maupun kawan, dapat melukai hatimu,

Jika kamu memperlakukan semua orang yang bergantung padamu tanpa pilih kasih,

Jika kamu dapat mengisi setiap menit yang berharga

Dengan 60 detik pemikiran untuk tetap memikirkan tujuanmu,

Segala dalam dirimu sama berharga seperti bumi dan segala isinya,

Dan –dengan banyak ‘jika’ yang lain- barulah kamu menjadi seorang laki-laki, wahai Anakku!

Kursus Kreatif Rumah Pensil

Kursus Kreatif Rumah Pensil adalah Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Kreativitas melalui Pendidikan Seni dengan cara yang menyenangkan. Didirikan tahun 2003 oleh Eka Wardhana, penulis lebih dari 400 judul buku anak, pendongen dan pembicara pada berbagai seminar pendidikan.

Kami juga menyediakan kerja sama dengan sekolah (ekskul), franchise dan privat ke rumah.

Keunikan Kursus Kreatif Rumah Pensil :
– Bukan hanya mengajar mewarnai tetapi juga mengajak anak memasuki dunia garis (gambar).
– Tujuan akhir pembelajaran adalh pameran bersama, bukan untuk sejedar memnang di perlombaan.
– Setiap memulai kursus, kakak pengajar akan mengisahkan sebuah dongeng.
– Anak didorong untuk mengapresiasikan karyanya dengan bercerita.
– Membari laporan deskriptif kemajuan setiap anak.
– Menngajak anak berkarya di berbabagai media selain kertas seperti batu, kaos, keramik dan lainnya.

menggambar di media talenan IMG-20160427-WA0010

IMG-20160420-WA0008IMG-20160425-WA0015IMG-20160425-WA0012

Ingin tahu lebih lanjut tentang Kursus Kreatif bersama Rumah Pensil !?
Hub : 022 5221045
0857 2221 6516 / 0812 2326 6662

Akhlak Terhadap Makanan

Karena Rasulullah SAW tidak pernah mementingkan perut, akhlak Beliau terhadap makanan benar-benar sangat baik. Walaupun hanya mendapat sedikit makanan, Rasulullah SAW selalu bersyukur kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa kadang-kadang Rasul dan keluarganya selama sebulan penuh hanya mengisi perut dengan kurma dan air.
Selain itu, Rasulullah selalu berterima kasih kepada orang-orang yang telah membuat makanan. Tak pernah Rasulullah menegur tukang masak walaupun mereka lalai. Rasulullah juga tidak pernah mencela makanan, seberapa pun makanan itu tidak Beliau sukai dan tidak Beliau makan. Rasulullah tidak pernah menolak makanan yang disediakan dan tidak pernah meminta hidanngan yang tidak ada.
 
Abu Hurairah meriwayatkan dalam hadis, “Belum pernah Rasulullah mencela suatu makanan. Kalau Beliau suka, makanan itu dimakannya, dan kalau Beliau tidak suka, ditinggalkannya.”
Ibnu Taimiyah pun menulis, “Adapun tentang makanan dan pakaian,maka sebaik-baik petunjuknya adalah petunjuk dari Rasulullah SAW. Akhlak Beliau dalam hal makanan adalah makan sedikit dari yang Beliau suka, tidak menolak makanan yang disediakan, tidak mencari-cari yang tidak disediakan. Beliau makan daging dan roti yang disajikan, Beliau juga memakan kurma yang dihidangkan. Namun, apabila terdapat dua makanan dengan dua warna yang berbeda, Beliau hanya makan satu saja. Beliau juga tidak menolak makanan yang manis dan lezat.”
Foto cover rosaFoto cover rosa 2Foto Box rosa
Masih banyak kisah tentang kemuliaan Rasulullah dalam menjalani kesehariannya, temukan berbagai kisah yang lainnya dalam set buku Rasulullah Tersayang persembahan Rumah Pensil Publisher.
Indent cetakan kedua, sampai 31 Mei 2016.

Siapa Penyelamat Andalusia?

Andalusia adalah nama Spanyol saat sebagian besar wilayahnya ada di tangan Islam. Di abad Hijriyah atau abad Masehi, Andalusia yang dulunya diperintah satu penguasa Islam, kini terbagi-bagi menjadi beberapa kerajaan kecil Islam yang lemah. Para penguasanya lebih banyak berfoya-foya daripada mengembangkan Islam. Hal ini dimanfaatkan beberapa kerajaan Kristen yang selama itu memng mengincar untuk menyapu bersih kaum muslimin dari Andalusia. Mereka bahkan berhasil mengadu domba kerajaan-kerajaan muslim untuk saling berperang. Bahaya baru disadari para pengusa kecilitu ketika beberapa wilayah sudah hilang dicaplok kerajaan Kristen seperti Toleda dan Zaragoda. Di saat itu raja-raja kecil muslim Andalusia mengirim utusan pada pemimpin Muslim di Afrika Utara, Yusuf bin Tasyfin, untuk membantu menyelamatkan mereka.

Bagaimana cara Yusuf bin Tasyfin membantu kerajaan-kerajaan kecil Islam untuk mengambil kembali kekuasaan Islam dari kerajaan Kristen !?
Baca lengkapnya pada Seri Kejayaan Islam, Buku Para Pahlawan Muslim persembahan dari Rumah Pensil

SKI Ilmuan Muslim SKI Pahlawan muslim

HARI BUKU SEDUNIA, Let’s back to the books

Ayah dan Bunda, banyak dari kita tidak sadar bahwa pada 23 April yang baru lalu adalah hari yang tidak biasa. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sejak tahun 1995 telah menetapkan tanggal 23 April sebagai World Book Day, Hari Buku Dunia. Hari spesial ini diadakan guna mengingatkan kita akan pentingnya kegiatan membaca, pentingnya menerbitkan buku dan pentingnya menghargai karya tulis sebagai hak cipta (copyright).

Sayangnya Ayah dan Bunda, di negara kita gaung hari istimewa itu benar-benar tak terdengar. Padahal buku dan membaca adalah dasar peradaban. Tak ada peradaban besar yang bakal tumbuh bila tidak menyertakan kedua hal tersebut. Bukankah ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an pun menyuruh agar kita membaca?

Sudah kita semua pahami Ayah dan Bunda, bahwa anak-anak kita tumbuh sebagai Digital Native Generation, generasi yang sudah sangat akrab dengan dunia digital. Diakui atau tidak, gawai digital telah menyita perhatian anak-anak dari benda kuno dan tua bernama BUKU. Bila televisi ibarat gelombang laut yang menghanyutkan anak-anak dari kebiasaan membaca, gawai digital membuat gelombang itu menjadi tsunami. Berapa banyak lagi yang bisa hidup bila sekelompok turis di pantai dihanyutkan tsunami? Berapa banyak lagi anak yang gemar membaca bila tsunami televisi dan gawai digital telah melanda mereka?

Seorang bijak pernah berkata: TV. Jika anak-anak sudah demikian terhibur oleh 2 huruf itu, bayangkan betapa bahagianya mereka bila memiliki 26 huruf secara lengkap. Bukalah imajinasi anak-anakmu. Bukalah sebuah buku.

Bener banget Ayah dan Bunda, imajinasi adalah salah satu kelebihan buku dibanding televisi dan gawai elektronik. Ketika membaca sebuah buku, anak-anak akan mengerahkan kemampuan otaknya untuk membayangkan, mengimajinasikan dan melakukan reka-ulang adegan dari cerita. Hal itu benar-benar melatih otak untuk kelak dapat melahirkan banyak imajinasi kreatif. Bahkan bila buku tersebut disertai banyak gambar dan berwarna, mereka masih bisa mengimajinasikan gerakan dan suara di dalam benak. Berbeda dengan televisi dan gawai digital dimana anak-anak menjadi penonton pasif karena gerakan, suara dan bentuk para tokoh cerita telah dihadirkan secara lengkap.

Ayah dan Bunda, Charles W. Eliot pernah menulis: Buku-buku adalah teman yang paling tenang dan setia. Sebab mereka mudah dimintakan nasihat dan merupakan penasihat yang paling bijak. Buku-buku juga merupakan guru yang paling sabar.

Jadi buku-buku sebenarnya bukan sekadar benda mati biasa, mereka bisa hidup dalam benak pembacanya. Saya sungguh berharap dan berdoa agar budaya membaca yang belum pernah tumbuh di negara ini sebelum datangnya tsunami digital, masih bisa tumbuh di tengah gelombang dahsyat tersebut. Tanpa kesertaan buku dan kecintaan membaca, kita akan menjadi buih, sementara orang-orang lain menjadi ombaknya.

Ayah dan Bunda, bila Anda bingung tentang bagaimana mengubah nasib anak-anak kita menjadi lebih baik, mulailah dengan menanamkan rasa cinta buku dalam benak mereka. Maka Anda akan lihat mereka akan tumbuh menjadi manusia berkarakter yang tak mudah diombang-ambing gelombang zaman.

cintai buku

Mari kembali ke buku dan membaca, Ayah dan Bunda. Kurangi jajan makanan dan belilah buku. Potong anggaran untuk pakaian baru, tambahkan pada dana untuk membeli buku baru. Jangan pernah tenang sebelum kita dan anak-anak telah menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan. Ingatlah kata-kata Joseph Brodsky ini: Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk dari membakar buku. Salah satunya adalah dengan tidak membacanya.

by.Eka Wardhana

MENGAJAR ANAK HIDUP TERHORMAT: APA YANG TERJADI SEANDAINYA PARA SAHABAT MELIHAT KEHIDUPAN KITA?

                Ayah dan Bunda, satu lagi berita baik buat kita yang tengah merindukan kebangkitan Islam. Seorang anak Indonesia, La Ode Musa, menjadi pemenang ke-3 Hafizh Qur’an kategori 30 Juz pada MTQ Internasional 2016 (10-14 April) di Mesir. Yang membuat takjub, prestasi itu diraih Musa dengan status sebagai peserta termuda di acara tersebut. Usianya baru 7 tahun, sementara para peserta lain berusia di atas 10 tahun. Hal itu yang membuat Musa mencuri perhatian masyarakat Mesir.

La Ode Musa

Bayangkan deh Ayah dan Bunda, para penonton dan peserta lain sampai berebut minta selfie bersama Musa. Banyak juga orang yang berebut untuk mencium kepala kecilnya. Itulah tanda bila orang Arab menaruh rasa hormat pada orang lain. Betapa tidak hormat, Ayah dan Bunda, saat Musa membacakan hapalannya, banyak orang sampai menangis terharu. Tidak kurang sampai 2 presiden memberikan ucapan selamat padanya. Satu Presiden Indonesia dan satu lagi Presiden Mesir. Bahkan Presiden Mesir sampai takjub melihat betapa anak sekecil itu mampu menghapal 30 Juz Al-Qur’an padahal ia tak bisa berbahasa Arab! Musa sampai kembali diundang ke Mesir saat Ramadhan nanti.

Ayah dan Bunda, itulah kehormatan yang diberikan Allah SWT pada orang-orang yang membuat dirinya hidup terhormat dengan mencintai Kitab-Nya. Saya ingat, beberapa tahun lalu sempat ngetren fenomena tampilnya para balita jenius. Di usia yang tak sampai 5 tahun mereka bisa hapal banyak sekali hal: mulai dari ibu kota negara di seluruh dunia sampai hal-hal yang bersifat biografis. Hal itu juga mengandung kehormatan dan penghargaan, namun sifatnya hanya duniawi. Lagipula tak ada kabar lagi tentang bagaimana prestasi para balita jenius itu sekarang.

                Menurut saya, Ayah dan Bunda, hidup terhormat bagi seorang muslim bukan diukur dari hal-hal yang sifatnya dunia semata, namun diukur dengan sejauh mana kita dan keluarga mampu melaksanakan hal-hal yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bila menghapal seperti Musa saja sudah sedemikian menakjubkan, apalagi bila bisa melaksanakannya. Wajarlah bila Allah menjanjikan Surga buat orang-orang yang membuat dirinya mampu hidup secara terhormat.

Kehormatan adalah hal yang penting diajarkan sejak dini. Kalau tidak, lihatlah sendiri apa yang terjadi sekarang: Siswi-siswi SMU yang saling menukar foto bugil mereka, menggertak polisi dengan memakai nama ayahnya walaupun sudah jelas dirinya melanggar lalu lintas, dan lainnya. Ayah dan Bunda, salah satu cara mengajarkan hidup terhormat pada anak-anak adalah dengan mengenalkan mereka pada cara hidup orang-orang terhormat pula. Siapa lagi orang-orang terhormat yang paling utama selain Muhammad Saw dan para sahabatnya?

Ayah dan Bunda, seperti apa perasaan kita bila ditanyakan: Bagaimana bila Rasul Saw dan para sahabatnya datang ke rumah dan melihat langsung kehidupan kita? Bila kita merasa malu, kiranya cukuplah sebagai permulaan. Itu tandanya kita sudah siap memulai hidup terhormat seperti yang diajarkan generasi terbaik umat Islam itu.

Bagaimana bila ditanyakan dari sudut pandang yang sebaliknya: Seperti apa perasaan para Sahabat Nabi bila melihat kehidupan kita?

Ayah dan Bunda, para sahabat Nabi pun manusia. Jadi saya pikir wajar bila reaksi mereka pun akan beragam. Namun secara umum bisa dikatakan bahwa mereka akan merasa sangat prihatin. Sebab walaupun di masa kini berhala sudah tidak lagi disembah, namun umat Islam masih gandrung kepada hal-hal lain seperti uang, ketenaran, pangkat, ketampanan, kecantikan, musik dan lainnya. Untuk bisa membayangkan bagaimana perasaan para sahabat, kita dapat merenungkan hal-hal yang membedakan kehidupan mereka dengan kehidupan saat ini:

 

Sahabat Kita
1.       Harta dunia mengejar-ngejar para sahabat dalam jumlah melimpah.

2.       Para sahabat mampu meraih kenikmatan hanya berbekal sedikit air wudhu dan sehelai sajadah.

3.       Para sahabat bercita-cita secepat mungkin mati dalam keadaan syahid.

4.       Para sahabat menangis mendengar ayat-ayat Allah dibacakan.

5.       Para sahabat banyak dibicarakan orang karena prestasi mereka yang mendunia.

6.       Para sahabat berlomba menegur orang yang bersalah.

1.       Kita setengah mati mengejar-ngejar harta dunia dalam jumlah sedikit.

2.       Kita setengah mati mengejar kenikmatan dengan menghabiskan uang tak sedikit untuk berwisata dan berbelanja.

3.       Kita bercita-cita hidup selama mungkin dan tak ingin mati.

4.       Kita menitikkan air mata bila mendengar nyanyian sedih dilantunkan.

5.       Kita berebut membicarakan keburukan orang lain

6.       Kita berlomba dalam melakukan banyak kesalahan.

Masih banyak perbedaan-perbedaan lain, namun yang sedikit di atas itu pun sudah cukup. Cukuplah kiranya bila kita merasa malu membayangkan para sahabat Nabi melihat kehidupan kita sekarang dari akhirat. Membayangkan hal-hal seperti itu bukanlah hal aneh. Sebab bukankah nanti di Hari Kiamat, semua orang akan bisa melihat perbuatan kita sampai ke hal-hal terkecil?

by.Eka Wardhana