Nov 26

MENANGKAP SEDIH

Penulis: Eka Wardhana
,
Acara belum dimulai, tetapi ballroom hotel sudah mulai diramaikan para undangan. Semangat mereka terasa memenuhi ruangan besar dan mewah itu. Semua penasaran ingin melihat serta berbicara langsung dengan Raisya Medinna -si penulis muda berbakat- dalam acara peluncuran film perdananya “KUTANGKAP SENYUMMU”.  Raisya, bintang hari itu, sudah tiba sejak pagi. Film yang diluncurkan ini didasarkan pada novel inspiratifnya dengan judul yang sama. Di umurnya yang belum lagi kedua puluh, ia seperti komet di langit malam yang jernih. Tak sampai satu tahun setelah novelnya meledak, kini filmnya pun diluncurkan.
,
Seperti halnya kebanyakan penulis berbakat, Raisya agak introvert. Ia tak pernah bisa menghapus rasa nervousnya bila harus berbicara di depan orang banyak. Apalagi dalam keadaan menunggu seperti sekarang. Rasanya dia ingin menghilang seketika dan tiba-tiba muncul di hutan yang jauh dan sepi. Dimana hanya ada dirinya, pepohonan dan burung-burung. Namun begitu, ia punya resep tersendiri untuk menghilangkan rasa cemasnya, caranya adalah dengan mengingat kejadian-kejadian manis di masa lalu. Raisya tersenyum sendiri saat pikirannya mulai menerawang masa kecilnya. Sepuluh tahun lalu, saat semua kesuksesannya ini bermula…
,
Ketika itu usianya baru sembilan jalan sepuluh. Ia sedang terjebak di rumah kakeknya, di sebuah dusun terpencil jauh di kaki Gunung Gede. Papa dan Mama memutuskan untuk menitipkan putri tunggal mereka itu di rumah Kakek selama seminggu, tepat di masa liburan semester. Karena sibuk dengan pekerjaan, baik Papa atau Mama, tidak bisa ikut tinggal di sana. Mereka langsung pulang hari itu juga. Terus-terang Raisya merasa dibuang. Bukannya dibawa melihat pantai atau Borobudur, ia malah ditaruh di tempat terasing ini. Jauh dari teman-temannya, jauh dari buku-buku komiknya, jauh dari game-game komputer kesukaannya.
,
Malam pertama di desa terasa amat panjang. Suara jangkrik dan hewan malam membuat Raisya hampir tak bisa tidur. Keesokan harinya Kakek membawa Raisya melihat-lihat desa. Kakek menunjukkan sawah dan ladang-ladang sayur miliknya. Kakek bahkan mengajak Raisya makan siang di dangau yang terletak tepat di tengah persawahan, dimana angin gunung yang sejuk mengusap-usap kulit sepanjang hari. Tapi hal itu tidak juga bisa menghilangkan rasa sedih dan sepi Raisya.
,
“Naaah,” ujar Kakek ceria sambil mengusap perutnya sendiri yang kekenyangan, “Setelah Shalat Ashar nanti, Kakek akan mengajakmu mengunjungi Priscilla dan anak-anaknya.”
“Siapa Priscilla? Orang bule? Tetangga Kakek?” tanya Raisya, mengucapkan beberapa kata pertamanya sejak tiba kemarin.
,
“Dia memang bule dan tetangga paling dekat,” jawab Kakek sambil tertawa. Lalu dengan tawa yang tiba-tiba meledak tambah keras, Kakek menambahkan, “Sudah jadi janda pula…”
“Uh, apa asyiknya berkunjung ke rumah tetangga!” gerutu Raisya dalam hati. “Apalagi anaknya banyak. Jangan-jangan mereka nakal-nakal pula! Terus apa kata Kakek tadi? Janda? Hah, mentang-mentang Nenek sudah tiada, jangan-jangan Kakek mau menikah lagi!”
,
Namun sejuta prasangka di hati Raisya lenyap ketika tahu bahwa Priscilla adalah nama kerbau bule betina milik Kakek. Sambil tertawa Kakek mengenalkan Si Penggembala, seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dari Raisya, “Ini Amat. Ia akan menjadi teman yang menyenangkan untukmu selama di sini.”
Mulanya Raisya ragu, namun Amat benar-benar anak yang ceria. Setelah Kakek pergi, Raisya bertanya, “Kenapa nama kerbau ini Priscilla?”
,
“Sebab kakekmu penggemar Elvis Presley. Itu lho, Raja Rock dari Amerika,” cengir si Amat.
“Terus?” Raisya masih belum mengerti.
“Priscilla itu kan nama istrinya Elvis,” jawab Amat. “Ketiga anak kerbau ini masing-masing bernama Lisa, Marie dan Presley. Itu penjabaran dari nama putri satu-satunya Elvis: Lisa Marie Presley. Oh ya, kerbau pejantan suaminya si Priscilla ini belum lama mati. Kamu pasti bisa menebak namanya kan?”
“Elvis?” tebak Raisya.
,
“Tepaaat!” sorak Amat sambil melompat ke kali.
Tawa Raisya terdengar merdu. Rasanya belum pernah ia tertawa seenak ini. Amat muncul dari dalam air, lalu berkata serius, “Waktu kamu tiba kemarin, aku sudah melihat kamu dari jauh. Saat itu kamu tampak seperti anak paling sedih di dunia. Padahal gampang saja melawan sedih itu! Bayangkan sedih itu seperti sehelai kain hitam, tangkap dia, lalu buang ke tempat sampah! Perhatikan, aku akan menangkap sedih dari wajah kamu…”
,
Tangan Amat menunjuk ke wajah Raisya, lalu mengambil sesuatu yang tidak tampak dan melemparkan sesuatu itu jauh-jauh. Raisya membalas, “Kalau aku, aku akan menangkap senyum kamu itu!”
Raisya menunjuk ke wajah Amat, mengambil sesuatu yang tidak tampak dan memasukkannya ke kantong celananya. Mereka berdua tertawa berderai.
,
“Raisya?”
Lamunan Raisya bubar, rupanya acara sudah dimulai dan ia diminta memberikan sepatah dua kata. Raisya menggerakkan tangannya di udara, mengambil sesuatu yang tak tampak dan membuangnya jauh-jauh rasa nervousnya. Ia berkata dalam hati, “Terima kasih Kakek, terima kasih Amat. Kalian telah menunjukkan bagaimana caranya untuk tetap bergembira. Berkat kalian aku tahu bahwa kegembiraan itu kita buat, bukan kita tunggu. Buku dan filmku adalah kisah tentang keceriaan kita bertiga selama kita liburan di sana.”
,

Ketika Raisya tampil, tepuk tangan pun membahana…

,

 

referensi:
,
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher

Nov 19

SENYUM KREATIVITAS

penulis: Ekawardhana
,
images2
Tujuh tahun yang lalu, Sofyan berteriak penuh takjub, “Lihat gambar Eya ini, Mah!”
Tangannya mengacungkan selembar kertas ke depan wajah istrinya. Sang istri sedikit mengerutkan dahi tapi tetap menambahkan seulas senyuman. Jelas ia tak begitu paham maksud suaminya. Apalagi yang diperlihatkan Sofyan hanyalah gambar corat-coret buatan Eya, putri mereka yang baru berumur 3 tahun. Apa yang bikin heboh sih? Eya kan memang sudah biasa gambar begini!
,
“Lihat, Eya sudah bisa membuat leher pada gambar orang ini!” ucap Sofyan tidak sabar melihat reaksi istrinya.
“Oh iya,” ucap istrinya datar tapi melebarkan senyumannya biar tidak tampak terlalu polos.
“Bukan cuma ‘oh iya’ dong!” ujar Sofyan lagi. “Kamu tahu tidak sih, tidak banyak anak berumur 3 tahun yang bisa gambar orang selengkap ini! Lihat: ada rambut, hidung, telinga, alis, jari dan leher! Semua lengkap!”
Melihat istrinya masih ‘cengar-cengir’, Sofyan langsung menyampaikan kesimpulannya, “Itu artinya Eya punya bakat di bidang gambar! Itu kan bisa dibilang dia punya bakat kreativitas yang besar!”
,
Istri Sofyan baru mengangguk mengerti. Ia langsung paham, suaminya yang bekerja sebagai desainer pada sebuah biro periklanan memang sangat mengagungkan kreativitas. Dengan moto hidup “Orang kreatif nggak ada matinye”, ia pasti lega melihat bibit kreativitas tumbuh di dalam darah dagingnya sendiri.
,
Namun itu 7 tahun yang lalu. Malam ini, rasa bangga itu seolah sudah tak tersisa. Eya kini duduk di kelas 5 SD. Saat dimana setiap orangtua mulai mengkhawatirkan monster besar bernama Ujian Nasional. Meski masih setahun lagi, untuk menghadapi sang monster, ribuan orangtua mendaftarkan anaknya sedini mungkin untuk ikut kelas-kelas bimbingan belajar. Namun sebagai orang yang mengerti prinsip-prinsip kreativitas, Sofyan tidak sampai memaksa Eya memasuki “Sekolah-Sekolah Gladiator” itu. Dari awal Sofyan tahu bahwa bakat putrinya bukan di bidang akademis seperti matematika dan sains. Bakat Eya ada di bidang seni. Sofyan paham betul itu. Namun akhirnya ia tak tahan juga melihat di kelas setinggi itu Eya belum hapal perkalian 1 sampai 100, belum lagi cara-cara melakukan perkalian dan pembagian dasar.
,
“Belajar matematika setiap malam dengan Papa!” perintah Sofyan pada putrinya.
Eya pun menurut. Kini setiap selesai shalat maghrib, ia menundukkan wajah di depan soal-soal matematika yang diberikan ayahnya dari buku-buku panduan Ujian Nasional. Pensil yang dipegangnya sama seperti hari-hari yang lalu, namun yang dihadapinya kini berbeda. Bila dulu ia menghadapi kertas putih yang siap digambar apa saja, kini ia menghadapi kertas yang dipenuhi deretan angka-angka yang dirasakannya amat penuh ancaman. Kertas putih yang dulu jadi sahabatnya kini sudah jadi musuhnya, hanya karena bukan ia yang mengisi kertas itu, namun orang-orang dewasa yang katanya pintar-pintar.
,
Tetes demi tetes air mata Eya bercucuran. Sofyan telah melihat itu selama berhari-hari, tetapi ia mengeraskan hati untuk tidak menyerah. Eya harus lulus UN dengan nilai bagus seperti ia dulu lulus Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, titik! Namun, bila tetes air yang terus-menerus jatuh bisa melubangi batu, air mata seorang putri pun pasti bisa meluluhkan hati ayahnya. Maka, ketika melihat Eya lagi-lagi duduk membeku kebingungan, Sofyan memutuskan untuk memberinya jeda. Di ambilnya secarik kertas gambar. Ia sodorkan kertas itu ke depan putrinya lalu berkata, “Sekarang kamu menggambar dulu setengah jam. Setelah itu kerjakan soal lagi!”
,
Namun sampai waktunya tidur, kertas itu tak berisi apa-apa kecuali bercak-bercak air mata. Sofyan merasa kesabarannya habis, “Sudah tidur kamu! Papa tidak peduli kamu mau dapat nilai UN berapa nanti!”
Eya pergi ke kamarnya dengan mata basah. Untuk meredakan rasa galau suaminya, sang istri datang menyuguhkan teh campur madu kesukaan Sofyan. Lalu, sambil mengambil kertas gambar Eya tadi, dengan lembut sang istri berkata, “Sejak belajar matematika sama Papa, Eya sudah tidak pernah menggambar lagi…”
,
DUG! Benak Sofyan seperti dihantam palu! Eya si jago gambar yang dulu pernah ia bangga-banggakan pada teman-teman sekantornya kini sudah tidak menggambar lagi? Perlahan-lahan ia ingat tulisan berbingkai yang dipasang di dinding kantornya: “Ketika kita mendapat berkah kehidupan, adalah tragedi bila membiarkan ada bagian-bagian diri kita berikut ini mati: semangat kita, kreativitas kita atau keunikan-keunikan kita.” (Gilda Radner).
,
“Maafkan Papa, Eya!” ujar Sofyan sambil berlari menyusul Eya. Sang istri tersenyum sambil menggeleng-geleng kepala, “Ayah dan anak sama saja.”
Sang istri lega karena tahu suaminya tak akan lagi memaksa putrinya mengingkari bakat-bakat yang diberikan Tuhan. Ia tahu bahwa mulai besok, suami dan putrinya akan tersenyum merekah lagi seperti dulu. Senyum yang mereka namakan dengan bangga: “Senyum Kreativitas Keluarga Sofyan”..
.
mau update berita terbaru yuk follow
twitter: @rumpenpublisher

Nov 12

UKURAN KITA

penulis: eka wardhana
,
Beben, si Ayah muda itu, duduk setengah terlentang di sofa. Gaya khas orang sedang lelah plus galau. Tangan kanannya teracung kaku ke depan sejenak, lalu memencet tombol “on” di remote tv yang dipegangnya. Dua kali menekan, barulah layar LCD di depannya menyala. Satu menit berikutnya dihabiskan untuk mencari channel yang cocok. Setelah itu barulah tangan kanannya terkulai dan remote tv -benda yang paling banyak dipencet orang di masa kini setelah handphone- terguling begitu saja di lantai.
,
Rasa penat akibat tumpukan pekerjaan di kantor hanya bisa ditiup hilang oleh rasa rileks. Saat ini hanya tv yang bisa menimbulkan perasaan itu. Namun belum lagi rasa rileksnya datang, pandangannya ke tv tertutupi buku tulis terbuka yang dipenuhi soal-soal matematika sederhana.
“Ayah, ini Pe-er aku. Aku nggak bisa mengerjakannya!” ujar Karina sambil mengacungkan buku tulis tepat 10 cm di depan muka ayahnya.
,
Di dalam dada Beben, api kecil terpantik dan mulai menyala.
“Jangan menghalangi Ayah,” geramnya tanpa melirik Karina.
Karina menurunkan tangannya, lalu duduk merapat di samping Beben, “Bantu Karina dong, Ayah!”
“Nanti!” geram Beben lagi dengan mata masih terpaku ke layar tv. Namun rasa nikmat menontonnya mulai hilang.
,
Karina terus mendesak manja. Ia bergelayut, menempel sampai memandang lekat-lekat wajah ayahnya dari jarak dekat. Akhirnya dengan terpaksa Beben memutuskan untuk mengalah pada keinginan putri satu-satunya itu. Ia ambil buku dari tangan Karina dan menatap soal-soal kelas 2 SD itu sekilas. Lalu dengan pandangan tak percaya, ia menoleh ke wajah Putrinya dan menyemprotkan pertanyaan, “Begini saja tidak bisa?”
“Susah atuh, Ayah,” Karina tersenyum manja.
,
Senyum yang bila ia lontarkan pada ibunya, pasti akan membuahkan cubitan gemas di pipi. Namun kali ini yang ia terima adalah suara tertahan dari ayahnya, “Kapan pe-er ini dikumpulkan?”
“Besok,” jawab Karina ringan.
“Kapan pe-er ini diberikan?” suara Beben tambah tertahan.
“Seminggu lalu, kan waktu itu…”
,
Suara Karina terpotong bentakan ayahnya, “Kenapa baru sekarang dikerjakan? Soal ini ada 30 nomor! Tidak mungkin kamu mengerjakannya dalam semalam!”
Keduanya diam sejenak, ketegangan memuncak. Seperti yang dibilang orang bijak, sekali kita melepaskannya, rasa marah itu akan terus bertambah sampai akhir. Beben pun begitu, ia melanjutkan teriakannya, “Ayah tidak akan membantu! Ini pelajaran penting buat kamu! Lain kali tidak boleh tugas ditunda-tunda! Sekarang tidur!”
Beberapa menit setelah Karina masuk kamar, rasa penyesalan bercampur gelisah melanda Beben. Setelah mengalami perasaan seperti itu selama beberapa jam, ia tertidur di sofa. Di dalam tidurnya itu ia melihat Lisa, istrinya yang baru saja wafat 2 minggu lalu. Beben berteriak frustasi, “Lisaaa! Teganya kamu meninggalkan kami!”
,
Lisa tidak menjawab, tapi pergi keluar rumah. Beben berlari menyusul. Di luar hujan gerimis. Mereka berdua berdiri dalam hujan tanpa berkata-kata. Rasa dingin air hujan melarutkan semua perasaan galau dan mendatangkan ketenangan. Ketika Beben menoleh, Lisa sudah tidak ada. Tetapi di tanah tergeletak buku hariannya. Beben terbangun. Dengan mata berkaca-kaca ia pergi ke kamar dan menemukan buku harian itu tergeletak di meja rias. Selama 2 minggu ini, barulah ia berani membukanya. Buku itu masih baru, baru satu kalimat pendek tertulis di halaman pertama. Tulisan Lisa itu berbunyi: Kalau hal kecil saja bisa membuat kita marah, bukankah itu mengindikasikan seberapa besar ukuran kita sebenarnya?
,
Beben terhenyak. Lisa benar, Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda bahwa orang yang kuat bukanlah orang yang bisa mengalahkan orang lain, tetapi orang yang disebut kuat adalah orang yang bisa mengalahkan rasa marah dalam dirinya.
,
Beben memeluk Karina yang sudah tertidur dengan air mata membekas di pipinya yang mungil. Beben bertekad akan menjadi orang paling kuat di dunia buat putrinya itu.
,

Nov 09

THE READING MOTHER

Penulis: Eka Wardhana
baca-buku-rumpen
,
“Begini nih rasanya ada di Antah Berantah,” keluh Niken.
Ia berdiri kebingungan di depan reruntuhan yang dulunya adalah sebuah terminal angkutan pedesaan. Tadinya ia hampir yakin kalau salah tempat, namun di plang penunjuk terminal yang sudah karatan masih jelas tertulis “Terminal Jasinga”. Meski begitu kakinya jadi ragu untuk melangkah masuk, padahal di sinilah ia janjian dengan suaminya untuk dijemput.  Namun hujan deras yang turun mendadak membuat keraguannya hilang, bergegas ia masuk ke dalam terminal dan menemukan sisa bangunan yang masih bisa dipakai untuk tempat berteduh. Di tempat itu, seorang wanita seusianya juga sedang duduk berlindung. Dari pakaiannya yang sederhana, jelas-jelas tampak kalau ia adalah penduduk setempat.
,
Setelah mengangguk dan saling bertukar senyum, Niken bertanya, “Kenapa terminal ini diruntuhkan, Bu?”
“Oh, dipindahkan ke terminal baru yang lebih besar di Kulon,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Barat. Suaranya benar-benar beraksen daerah perbatasan Bogor-Banten, khas penduduk setempat. Namun hal itu tak menghalangi pembicaraan berlanjut. Ketika hujan bertambah deras, seorang bapak datang dengan tubuh basah kuyup. Teman bicara Niken mempersilakannya duduk di sisa bangku, namun ketika bergeser untuk memberi tempat, dari keresek di pangkuannya jatuh beberapa barang yang bagi Niken rasanya tak nyambung dengan keadaan tempat itu yang benar-benar kental bau pedesaannya. Niken membantu memunguti kartu-kartu huruf dan buku-buku belajar membaca yang bagus dengan gambar berwarna-warni serta kertas tebal jenis glossy yang mengkilat.
,
“Wah, aku saja tak punya buku-buku ini di rumah,” pikir Niken dengan ingatan yang langsung melayang pada putrinya yang akan berulang tahun ke-5 minggu depan.
“Buat anaknya, Bu?” tanya Niken sambil menyerahkan buku-buku dan kartu-kartu tadi.
Ibu itu tersipu malu, “Bukan, ini buat saya…”
,
Melihat alis Niken terangkat bingung, ia melanjutkan masih dengan tersipu, “Saya memang belum bisa membaca. Di kampung kami dulu, anak-anak diajarkan mengaji tetapi belum ada yang mengajar membaca huruf latin. Jadi saya tumbuh buta huruf.”
,
“I… ibu dapat ini dari mana?” tanya Niken masih tetap bingung.
Ibu tadi mengangguk, tersipu lagi, lalu berkata, “Itu dari bekas majikan saya. Dua tahun ini saya bekerja di rumahnya yang besar di Bogor. Anak laki-laki saya yang waktu itu berusia 3 tahun saya titipkan pada suami di kampung. Majikan saya itulah yang menunjukkan saya pentingnya membaca. Ia belum terlalu tua, tetapi sudah sakit-sakitan. Biar begitu, tiap malam ia pasti menyempatkan waktu mengajak kedua anaknya membaca. Ceritanya begitu indah dan dibacakan dengan suara yang merdu. Saya sendiri lama-kelamaan tertarik dan ikut mendengarkan. Majikan saya seolah mengerti dan membiarkan saya duduk di lantai. Saya pun berusaha menyelesaikan semua pekerjaan setiap malam sebelum ikut mendengarkan…”
,
Wanita itu berhenti sejenak untuk menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya. Tangannya tampak gemetar memegangi buku-buku indah tadi. Lalu melanjutkan ceritanya, “Seminggu yang lalu majikan saya itu meninggal dunia. Sehari sebelum ia meninggal, saya bertanya padanya: Ibu, apa saya harus tetap tinggal di sini untuk merawat Keisya dan Rafid? Majikan saya itu menggeleng, katanya, Saomi, Keisya dan Rafid masih punya ayah untuk merawat mereka. Namun anak kamu di kampung masih punya ibu. Pulanglah, bawa buku-buku ini, belajarlah membaca. Lalu bacakan pada anakmu buku-buku yang bagus seperti yang kubacakan pada Keisya dan Rafid. Ingat Saomi, buku itu seperti lebah. Bila lebah membawa madu dari satu bunga ke bunga yang lain, buku membawa pikiran indah dari orang-orang pintar ke otak anak-anak kita…
,
,
Saomi menunduk, Niken ikut menunduk sementara air mata menetes dari ujung hidungnya. Pikirannya melayang ke putrinya, Aisha. Ia ingat beberapa kali Aisha membawa buku padanya minta dibacakan. Namun setiap kali pula ia katakan, nanti ya, sayang. Akhirnya Aisha berhenti minta dibacakan dan kini lebih banyak menonton kakak sepupunya main game.
,
“Aisha, maafkan Bunda,” isaknya dalam hati.
Air mata dari kedua wanita itu mengalir justru ketika hujan mulai mereda. Saat matahari senja semburat merah, mereka berpisah. Suami Niken telah datang menjemput dengan mobilnya, sementara Saomi melanjutkan perjalanan ke rumah dengan angkutan pedesaan. Niken berbisik dalam hati, setiap kali hatiku menjerit malas untuk membacakan buku, aku akan ingat kisah Saomi, The Reading Mother.
,
Suami Niken tersenyum, sambil menyetir ia berkata, “Bunda, tadi Ayah baca bukunya Henry Ward Beecher, ia bilang: Buku tidak dibuat untuk menghias rumah, namun tidak ada perhiasan rumah yang lebih indah dibanding buku-buku…”
Air mata Niken pun menetes lagi….
,
referensi:
twitter: @rumpenpublisher

Nov 09

PELAJARAN DARI KUNTUM KRISAN

oleh: Eka Wardhana (Rumah Pensil)
Gambar
“TIDUR SEKARANG JUGA!” bentakan itu begitu keras sampai membuat jangkrik berhenti mengerik. Padahal malam mulai sunyi seperti biasanya.
,
Teriakan itu berasal dari seorang ibu sedetik setelah melihat pot bunga kesayangannya pecah berantakan. Kuntum-kuntum bunga Krisan kuning berhamburan di lantai. Tanah bercampur pasir, pupuk dan pecahan batu merah ikut mengotori tepian karpet. Di tengah kekacauan kecil itu berdiri seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Tubuh kurusnya gemetar karena takut bercampur kaget. Kue tar di tangannya berhenti setengah perjalanan menuju mulut. Dari bibirnya yang masih setengah mengunyah, keluar ucapan tak jelas, “Ma… af, Bunda…”
,
Sambil menepuk keras pahanya sendiri, Ibu mengulangi perintahnya, “Masuk kamar kamu, sekarang!”
Anak Perempuan itu beranjak pergi. Rasa terkejutnya karena memecahkan pot dengan tidak sengaja ditambah bentakan keras mendadak, tak membuatnya terdengar terisak-isak. Namun jelas matanya berkaca-kaca. Setengah menyesal karena bereaksi terlalu keras, Ibu duduk menghempas di kursi dapur. Tangannya yang masih basah karena sedang mencuci piring, memijit-mijit dahinya sendiri.
,
“Ya Tuhan, ada apa dengan putri keduaku itu?” desisnya perlahan. “Dibanding kakaknya dia jauh berbeda. Seperti siput dengan kucing. Dia begitu lambat dalam segala hal. Di usia segitu belum tampak kalau dia bisa menghapal huruf-huruf. Padahal sebagian besar teman di kelasnya sudah bisa membaca sendiri cerita-cerita pendek. Dia juga sulit memahami perintah dan aturan-aturan sederhana. Sampai berbusa mulutku berulang-ulang menyuruhnya menaruh sendal di rak sepatu. Sampai berbuih bibirku memintanya menyimpan piring bekas makan di wastafel cuci. Belum lagi soal pelajaran berhitung… belum lagi soal kerapihan…”
,
Sambil mendesah, Ibu berlutut dan mulai membereskan kekacauan di lantai.
“Padahal sore ini kami baru saja merayakan hari lahirku,” keluhnya. Kue di mulut sang putri tadi rupanya merupakan potongan pertama kue ulang tahun.
,
“Krisanku yang malang,” ujarnya lagi setengah berbisik. Terbayang semua usaha untuk memelihara kuntum-kuntum bunga itu. Betapa ia harus menyiapkan pot bunga yang bersih dan sesuai. Setelah itu di dasar pot harus diletakkan beberapa pecahan batu merah untuk mengikat air. Diisinya pot dengan kombinasi yang tepat antara pasir, tanah dan pupuk. Sudah begitu ia harus dengan hati-hati meletakkan bunga-bunga Krisan ke dalamnya. Dengan seksama diupayakannya agar tanah asal di akar bunga tetap terbawa supaya krisan-krisan itu tak stress saat beradaptasi dengan media tanah yang baru. Belum lagi dia harus menjaga agar batang-batang Krisan tidak tertekan sampai gepeng. Agar tumbuh dengan baik, batang-batang bunga itu harus utuh dan harus dipotong miring dengan hati-hati.
,
Gambar
“Malangnya kamu,” ucapnya sambil mencium bunga kuning itu. Ia ingat mengajak kedua putrinya saat memilih bunga Krisan untuk dibawa pulang. Saat itu, ketika melihat dirinya mencium bunga Krisan, Putri Keduanya berkata dengan mata menggoda, “Kalau Bunda mencium bunga itu, cium aku juga dong…”
,
Kesadaran menyedihkan membanjiri pikiran Ibu, lebih pedih rasanya dari sengatan listrik, “Seharusnya putriku itu yang kucium bukan bunga ini!”
,
Sebagai penggemar tanaman ia pernah membaca tulisan Hal Borland, “Memahami pepohonan membuatku mengerti arti dari kesabaran…”
,
Ibu bergegas ke kamar putrinya di lantai dua. Sesaat sebelum masuk, ia mendengar putri keduanya berkata pada boneka beruang kesayangannya, “Bino, ini hari ulang tahun Bunda. Saat Bunda meniup lilin tadi, aku diam-diam berdoa agar Bunda menjadi orang yang lebih sabar sama aku. Soalnya aku sering bingung kalau Bunda bilang harus begini dan begitu…”
,
Ingatan Ibu melayang pada buku yang dibacanya semalam. Fulton J. Sheen, sang pengarang, menulis, “Kesabaran adalah kekuatan. Kesabaran bukanlah tidak adanya tindakan, tetapi lebih menunggu tibanya saat yang tepat untuk melakukan sesuatu…”
,
Dengan mata berkaca-kaca, pikiran Ibu berkata, “Ya, saat ini yang harus kulakukan adalah bersabar. Putriku ibarat bunga Krisan indah yang harus dirawat dan ditumbuhkan dengan benar, tidak terburu-buru dan harus penuh kesabaran. Hanya kesabaran yang akan membuat putriku akhirnya menemukan potensi dirinya yang kini masih tersembunyi…”
,
Ibu masuk dan memeluk putrinya erat-erat. Walau tanpa ada kata-kata, pelukan itu seolah berkata, Tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan dari Ibu, sekarang ibu punya selaut perhatian dan waktu untukmu. Percaya atau tidak, sang Putri pun mengerti maksud ibunya.

Jun 19

Seminar Interaktif Minggu 30 Juni 2013

undangan seminar tgl 30 juni 2013 1 lembarIkuti Seminar Interaktif bersama Rumah Pensil dan Bunda Yulia (Trainer, Penulis, Konselor Life Skill)

Minggu, 30 Juni 2013

Jam 09.00 s.d 12.00

Lokasi : Cafe Ayam Bakar Wong Solo. Jl. R.E Martadinata 152 Bandung

Tema “Mengatasi Krisis Idola Pada Anak dan Tips Menghindarkan Anak dari Kecanduan Games & Gatget”

Apr 20

NEW BOOK : SERI MENGENAL AL QUR’AN & AL HADIS

IMG-20130417-00525Cover Buku Seri Mengenal Al Qur’an dan Al Hadis

IMG-20130417-00533 IMG-20130417-00532

IMG-20130417-00531  IMG-20130417-00529Contoh isi dalam buku Seri Mengenal Al Qur’an dan Al hadis

  • Judul Buku “Seri Mengenal Al Qur’an dan Al Hadis”
  • 1 set @ 2 Jilid.
  • Jilid 1 ; Serba-serbi Al Qur’an, isi buku tentang Mukjizat Al Qur’an, Serba-serbi Al Qur’an, Kisah dalam Al Qur’an, dan Sejarah Al Qur’an.
  • Jilid 2 : serba-serbi Al hadis, isi buku tentang Yuk,  Laksanakan Hadis, Serba-serbi Hadis, Kisah dalam Hadis dan sejarah Hadis.
  • Semua Jilid dilengkapi dengan Kuis dan Komik.

Mar 13

Workshop Gratis di Bulan Maret 2013

2013-01-31 14.36.57

2013-01-31 14.12.41

Untuk meningkatkan wawasan para Guru khususnya Guru Taman Kanak-kanak Rumah Pensil membuka Workshop Gratiis untuk para Guru yang ada di sekitar Kota Bandung. Kegiatan ini diselengggarakan setiap hari Rabu dan Kamis pukul 13.30 s.d selesai.

Untuk info lebih lanjut silakan hubungi Rumah Pensil 022-7536431

Jan 26

Best Marketing New in Surabaya City

Nur Urifah adalah marketing baru di Rumah Pensil cabang Surabaya, bergabung pada tanggal 18 desember 2012 yang lalu. Pekerjaannya sebagai adminiztrasi di salah satu Rumah Sakit di daerah Surabaya, tidak menyurutkan semangatnya untuk mengenalkan Islam kepada semua orang melalui buku-buku Rumah Pensil.

“Awalnya saya membaca buku-buku kak Eka yang diterbitkan oleh penerbit lain, saya sangat tertarik dengan buku itu hingga akhirnya saya menemukan Rumah Pensil yang menjadi sarang Ide semua buku-buku Islam untuk anak-anak, saya pun langsung bergabung. Tujuan utama dari penulis adalah mengajar Islam dari sejak dini, itu salah satu semangat saya untuk menjadi Marketing di Rumah Pensil” Ujar ibu Nur saat berbincang dengan tim Rumah Pensil.

Ada banyak cara sang Marketing untuk memasarkan produk-produk Rumah Pensil, tetapi lain halnya dengan ibu Nur, setelah ditanya tentang strategi pemasaran yang ia lakukan ibu Nur menjawab “Saya memasarkan buku ari Rumah Pensil dengan cara pace to pace saja,,,saya mengenalkan buku-buku Rumah Pensil kepada orang-orang yang saya temui, teman sekantor tetangga dan juga teman kerabat, hanya saja diskon marketing yang saya dapat saja jadikan diskon tambahan untuk customer sehingga mereka akan lebih mudah lagi memiliki buku-buku Islam yang bagus dan berkualitas ini.” doc.

 

Jan 21

Best Marketing Yogyakarta 2012

Ibu Ida Nur LailaAssalamu’alaikum Sahabat Rumah Pensil, Tetep Open Your Book Open Your Mind….

Rumah Pensil tidak hanya berkibar di kota Bandung tetapi juga di kota-kota besar lainnya, salah satunya Yogyakarta.

Ibu Ida Nur Laila adalah salah satu marketing Rumah Pensil di wilayah Yogyakarta, kesibukannya sebagai seorang Apoteker tidak menyurutkan semangat ibu dengan enam orang anak ini untuk memasarkan produk-produk dari Rumah Pensil.

“Saya berusaha sebaik mungkin menyebarkan buku yang bermanfaat ini, buku-buku Islam yang sangat baik untuk dibaca oleh anak-anak, untuk menyebarkan buku-buku dari Rumah Pensil saya memanfaatkan media komunikasi dan jaringan internet” ujar ibu Ida saat ditanya strategi pemasarannya.

“Saya sangat menikmati menjadi marketing di Rumah Pensil karena melalui buku-buku ini saya bisa menjalin silaturahim kembali bersama teman-teman saya baik di kota tempat saya tinggal, yogyakarta, dan juga diluar daerah, secara finansial sangat membantu saya” p jawab bu Ida ketika menjawab manfaat yang telah beliau dapatkan saat menjadi marketing Rumah Pensil sejak Bulan Mei 2012 yang lalu hingga sekarang.

Teruslah berjuang para ibu teladan,mengenalkan Islam kepada generasi masadepan melalui Buku-buku Islam dari Rumah Pensil. Semangat Bunda… :)

Older posts «